Wayang Krucil

0
0
daya tarik wisata

Wayang Krucil merupakan salah satu jenis pertunjukan Wayang yang ada di Indonesia, yang membedakan wayang krucil dengan wayang lainnya adalah Wayang Krucil menggunakan boneka wayang terbuat dari kayu berbentuk pipih. Wayang Krucil pada awalnya dicipatakan oleh Raja Brawijaya V (1315) dari kayu tipis (papan) dengan corak meniru gambar wayang beber, bercerita tentang Kerajaan Jenggala, Kediri, Ngurawan, dan Singasari, sampai dengan Majalengka, yang dikenal dengan cerita Panji.

Menurut pendapat orang Blora pengertian Krucil dekat sekali dengan pengertian kecil, memang demikianlah kenyataannya wayang krucil Blora biasanya dibuat dari kayu yang rata-rata ukurannya kecil. Di dalam klasifikasi seni pertunjukan, wayang krucil Blora dapat digolongkan ke dalam kesenian klasik namun di dalamnya tercantum unsur-unsur kerakyatan yang serasi. Dari penggarapannya dapat diamati jejak garapan klasik seperti pembakuan cerita, bakak dan adegan, dialog tipologi wayang, iringan gamelan dan sebagainya. Di pihak lain terasa sekali adanya unsur-unsur garapan kerakyatan seperti spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan dan penuh humor yang pada hakekatnya merupakan gambaran pribadi orang Blora, yang menunjukkan ciri khas yang membedakannya dengan teater tradisional klasik lainnya, misalnya wayang kulit, wayang orangdan sebagainya.

Wayang krucil Blora sudah berkembang sebelum zaman penjajahan Belanda, tepatnya pada zaman masih berdirinya Kadipaten Jipang Panolan di wilayah Blora bagian timur. Sedangkan cerita wayang krucil biasanya mengambil cerita Hikayat Amir Hamzah atau Lakon Menak yaitu zaman Nabi Muhammad SAW yang terkenal sebagai pahlawan penyebar agama islam. Dari istilah-istilah yang digunakan sering menggunakan kata yang berasal dari Bahasa Arab itu memberi gambaran bahwa wayang krucil pada zaman dulu pernah menjadi salah satu sarana dakwah Agama Islam di Jawa. Dalam masa itu rakyat Blora yang masih menggemari wayang krucil mengintegrasikannya dalam pandangan hidup mereka, sehingga berkembanglah fungsi-fungsi ritual, di samping fungsi tontonan untuk melepas dan mendatangkan berkah, menolak bencana, mendatangkan hujan dan lain-lain. Disamping memiliki ciri khas menggunakan laras pelog wayang krucil Blora juga memiliki ciri iringan srepeg krucilan. (Sumber : Ensiklopedi Blora Seri 7)